Pohon beringin identik dengan mitos sebagai sarang makhluk halus penunggu (seperti genderuwo) dan tempat keramat. Mitos ini dulunya sengaja disebarkan oleh leluhur sebagai alat kontrol sosial (konservasi berbasis tabu) agar masyarakat takut menebang dan merusaknya, sehingga kelestarian sumber air tetap terjaga.Beberapa mitos dan fakta seputar pohon beringin meliputi:Tradisi Masangin: Di tengah hutan perawan, terdapat mitos bahwa siapa saja yang berhasil berjalan melewati celah di antara dua pohon beringin kembar dengan mata tertutup, maka keinginannya akan terkabul.Pembawa Sial dan Penyakit: Terdapat pantangan untuk membuang air kecil di dekat pohon ini, yang dipercaya bisa mendatangkan kesialan atau penyakit gaib (sawanen).
Di luar unsur mistis, pohon beringin memiliki filosofi luhur sebagai lambang persatuan dan tempat bernaung rakyat Indonesia dalam sila ketiga Pancasila.Penjaga Lingkungan. Secara ilmiah, beringin adalah penjaga ekosistem yang luar biasa karena akarnya yang kuat mampu mengikat tanah dan menyerap cadangan air tanah dalam jumlah besar.
Eko, Warga Riam Danau yang mengurus tanah peladangan di Batu Bekilat kampung Riam Danau dari orang tua angkatnya, Utin Tahra selalu mendengar jeritan sebatang pohon kayu beringin yang setiap saat menangis karena hidup sebatang kara. karena banyaknya pohon-pohon ditebangi untuk perkebunan kelapa sawit, penebangan liar dan maraknya perambahan hutan, maka pohon beringin atau yang dikenal masyarakat kampung setempat sebutan kayu are, hidup sendiri tanpa bertegur sapa dengan pohon beringin lainnya.
Alipidin, S.Sos, yang akrab disapa Bang Ali mengungkapkan kepada media kami bahwa tanah ini sekarang sudah dihibahkan kepada Yayasan Darul Fadhilah yang menjadi tanggung jawabnya untuk mengelola tanah tersebut kedepan akan dikelola untuk kepentingan masyarakat, diskusi keagamaan, dialog lintas adat dan budaya serta pusat pengajian remaja dan orang tua untuk menimba ilmu yang sesuai dengan kearifan lokal masyarakat Jelai Hulu.
Tokoh masyarakat setempat , Uti Dartani yang juga sebagai Pelaksana harian MABM Kecamatan Jelai Hulu, menceritakan kepada media jelaisekayuknews bahwa dulunya pada tahun 1970an, Kayu beringin ini sampai sekarang ada akar yang menyeberangi sungai Batu Bekilat yang digunakan masyarakat untuk menyeberang ke perladangan sejak jaman belanda sudah ada. termasuk adanya sebatang pohon Kalimantan yang berdiri tegak di hutan tersebut, yang berdiameter hampir satu meter, menghasilkan buah yang lezat dan segar. selain itu banyak pepohonan yang buahnya dinikmati burung hutan dan ekosistem lainnya seperti buah satar, cempedak, teratungan, manggis, kapul, limat dan lainnya.
