Wisatawan mancanegara terpesona dengan Tradisi adat Baayun Kerajaan Kotawaringin lama

 

        Adat baayun di Kotawaringin adalah tradisi leluhur mengayun bayi atau anak sambil melantunkan syair Maulid dan Sholawat, sebagai wujud rasa syukur atas kelahiran anak, permohonan keselamatan, serta doa agar anak tumbuh sehat dan berbakti.Prosesi dan Pelaksanaannya. 


Ayunan menggunakan kain hias tradisional yang disiapkan khusus untuk bayi atau anak yang diayun.Pembacaan Salawat diiringi alunan zikir dan syair puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW oleh pemuka adat atau keluarga. 


      

      Tradisi adat Baayun ini peninggalan Sultan Balladudin atau yang dikenal dengan Pangeran Ratu Begawan ( Raja Ke 7 Kerajaan Kotawaringin ) pada masa 1727-1761, beliau dimakamkan di Situs Kuta Tanah Kotawaringin Lama. Rangkaian Tasyakuran, sering kali menjadi bagian dari acara penting keluarga atau hajatan sunatan / syukuran anak.Makna Budaya ini menjadi ungkapan syukur sebagai bentuk terima kasih kepada Tuhan atas karunia keturunan. Memiliki nilai religius yang dapat menanamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sejak dini. Pelestarian budaya leluhur merupakan warisan budaya lokal khas masyarakat setempat yang terus dijaga agar tidak punah.

Gusti Slamet sebagai Juriat Kerajaan menyampaikan kepada Jelai Sekayuk News, tradisi Baayun ini masih tetap di lestarikan di tengan masyarakat Kotawaringin lama, agar tetap selalu lestari dan dapat dilihat dan diteruskan oleh anak cucu khusunya Juriat Kerajaan  Kotawaringin  Kabupaten Kotawaringin Barat kalimantan Tengah. 





Posting Komentar

Contact form